MARIBAYA AND UNEXPECTED JOURNEY

Hujan yang mulai berjatuhan tak menyurutkan niat dadakan kami, saya dan seorang sahabat untuk melepas penat di salah satu tempat wisata di utara kota Bandung, Maribaya. Tujuan yang harus ditempuh selama kurang lebih satu jam perjalanan dari kota kami, Cimahi melewati Cisarua Lembang. dengan berbekal keyakinan bahwa di tempat yang akan kami sambangi itu tidak turun hujan, karena langit di sana nampak lebih bercahaya.

Tapi, apa mau dikata sepanjang perjalanan kami terus diguyur hujan rintik yang membesar tak kunjung reda. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan dibarengi hujan dan macet akhirnya tibalah kami di area Maribaya yang ternyata ada banyak pilihan arena wisata (semoga nanti bisa diceritakan kembali) maklum kami memang jarang berwisata jadinya gagal gaul. hehehe.
Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya kepada penduduk setempat mengenai area tersebut dan kami yang basah kuyup memutuskan untuk masuk ke area pemandian air panas. Dingin meskipun hujan sepertinya nyaman untuk memanjakan diri dengan berendam di kolam air panas alami, meskipun tidak membawa pakaian ganti yang penting nyemplung di air panas dulu, urusan pakaian untuk pulang biarlah keadaan yang memutuskan.
Oke! Mari kita masuk, dengan harga tiket sebesar Rp. 35.000 sudah termasuk tiket parkir menjadi harga yang pantas untuk dicoba, itulah pikiran awal kami ketika membeli tiket. Dibekali payung untuk menjelajah suasana jadi seperti romantis, sayangnya sepayungnya sama sesama jenis, jadi ga pake romantis-romatisan, bisa masuk acara infotainment nantinya :D
 
Setelah melewati pintu masuk kami disuguhi pemandangan jembatan kayu yang sangat nyaman untuk dilalui. Kami dibuat kagum dengan penataan wilayah ini, bagi kami yang awam tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi, apalagi bagi yang gemar berfoto tempat ini bisa jadi salah satu pilihan untuk  menyalurkan hobi foto termasuk foto diri sendiri hehehe.
Sebelum bertemu dengan pemandian air panas kami akan melewati beberapa tempat makan yang didesain sedemikian rupa hingga menyatu dengan keseluruhan desain tempat  ini.
 
Setelah melihat tanda ini, kami tak sabar untuk sesegera mungkin menghangatkan tubuh berendam di air panas alami ini. Secara kami selama perjalanan terus menerus diguyur hujan, dinginnya warbiasaaaaaaaaaah.
Akhirnya kami mendapati kolam pertama yang hanya diisi oleh beberapa anak kecil lengkap dengan ibu-ibunya, (gak ke foto) dan kami melewatkan kolam itu, karena sedikit ada perasaan gimana gitu kalau ikut berendam di situ, hehehehe.
Untuk mencapai kolam rendam selanjutnya kami melewati beberapa arena permainan anak yang meskipun hujan, beberapa anak-anak nampak bermain dengan gembira.
 
Rasa dingin yang semakin bertambah, tak menyurutkan niat kami berendam karena itulah yang akhirnya menjadi alasan kami berada di tempat ini, tetap semangat.

Lalu kemudian harapan itu sirna, memandang harga tiket yang ternyata beda dengan tiket masuk yang kita beli dari awal tadi, dan harga yang tertera cukup fantastis Rp. 115.000 dan Rp. 90.000 whatttttt! Ok fix kami gagal untuk berendam, bangkrut abang dek klo gitu mah. Huhuhuhu
Seketika itu juga badan mendadak jadi lebih hangat dan semakin dingin (bingung kan) hehehe. Dan untuk mengobati kegagalan mandi air panas, kami memutuskan untuk berkeliling area tersebut, siapa tahu badan jadi hangat beneran dibawa jalan kaki.
Meratapi kegagalan berendam, nyambi jadi tukang ojek payung, neng payung nya neng.
 
 
Seandainya kondisi pada waktu itu tidak hujan pasti akan lebih ramai dan seru.
 
Ternyata disini juga terdapat ‘love lock’ entah untuk mengunci cinta, atau apapun itu tujuannya

Karena pada dasarnya kami bukan orang yang senang untuk berlama lama (padahal mah gara-gara ujan) kami memutuskan untuk menyudahi acara mendadak yang menjdai tidak jelas ini. Sebelum pulang kami sempat mampir di area foodcourt di dekat area parkir mobil, ternyata tak kalah menarik dengan area dalam, begitupun harganya hehehehe.
Setelah beristirahat sebentar meskipun hujan belum juga reda namun karena  perut mulai ber-rock n roll, kami memutuskan untuk mencari rumah makan padang untuk akhirnya pulang ke pelukan selimut hangat di rumah sendiri, bukan di rumah tetangga. :D
Maribaya 021016

Monolog Tengah Hari

Mungkinkah ini yang dinamakan writer’s block seperti yang ditulis oleh Ika Natassa dalam novelnya The Architecture of Love

Ketika sorang penulis kehilangan alfabet untuk dituliskan.
Tapi da aku mah apa atuh, penulispun bukan hanya seseorang yang dipaksa untuk selalu terus mencoba kembali menulis, mengetik lebih tepatnya.

Jadi kamu terpaksa menulis ini ???
maaf tidak ada keterpaksaan dalam penulisan tulisan ini, heuheueheueheu

Siapa emang yang memaksa kamu  untuk menulis ?
eng ing eng .... Tak lain dan tak bukan dialah si ratu lebah
http://www.rindagusvita.web.id
my Queenbee

Hohoho .... kenapa emang dipaksa terus ??
karena eh karena pernah bercerita bahwa pada jaman dahulu kala di kerajaan antah berantah saya pernah rajin menulis, dan itu terceritakan kepada sang ratu lebah. (agak nyesel cerita jadinya) *rotfl

Jadi dia (si ratu lebah) menagih bukti itu ?
emph... lebih tepatnya membangkitkan kembali keahlian jari jemari untuk menekan tuts keyboard komputer yang sudah semakin berdebu karena jarang tersentuh :D

Emang seperti apa cara dia membangkitkan keahlian itu ?
yang jelas selain disuruh pandai memasak, mencuci, menstrika, beres2 rumah dia selalu mengiming-imingi dengan hadiah2 heuheuehu... dengan berbagai lomba yang warbiasaaaaah

Tertarik dengan lomba2 itu ?
jelas tertarik, apalagi klo hadiahnya bujubuset ajib. Tapi bukan itu hal utama yang menjadikan saya kembali mencoba untuk menulis.

Klo bukan itu lantas apa ?
sudah bukan rahasia dan sudah banyak penulis yang menuturkan bahwa menulis itu sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan diri, melepaskan kepenatan. Ketika kita tak mampu berbicara lantang, tulisan menjadi suara dalam kesunyian yang Mungkin akan menjadi lebih lantang dari suara sesungguhnya. 

Ketka kita merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat bercerita tentang rasa, tentang cinta, tentang asa, tentang apapun yang mungkin sulit untuk kita ucapkan melalui suara. Semua ini adaah sebagai salah satu bentuk kecil dari rasa terimakasih yang selama ini kepada sang ratu lebah, yang tak bosan dan tak lelah selalu memberikan semangat, memberikan motivasi untuk bangkit dari ketidak berdayaan dalam menyusun kata melalui tulisan.

Jadi sesungguhnya ini tulisan tentang apa?
menurut kamu ini tentang apa? Saya sendiri pun kurang mengerti ini tentang apa, hehehe. Silahkan kamu dan kalian yang membaca tulisan ini untuk menyimpulkan,  tulisan ini ada karna saya sendiri pun bingung untuk menjelaskannya secara langsung.

Hmm... baiklah, mungkin ini saat nya untuk mengakhiri tanya jawab ini,
mungkin memang seperti itu, bagaimana jika lain kali kita lanjutkan perbincangan ini?
baiklah, semoga dalam waktu dekat ini.
ya.... semoga